BAHAYA MENOLAK HADITS

BAHAYA MENOLAK AL HADITS

Oleh: Agus Santoso, S.Pd.I

Agama Islam adalah agama akhir jaman yang telah dibawa oleh Sayyidul mursalin Muhammad r sebagai agama yang sempurna dan menyempurnakan agama-agama sebelumnya, membawa lentera kebenaran dan menyinari kegelapan jahiliyah. Agama Islam mampu membawa kejayaan umat menuju kebahagian di dunia dan akherat. Dengan landasan dasar tauhid menjadikan agama Islam ini pemikul tongkat estafet dakwah para nabi, karena dakwah para nabi adalah satu yaitu dakwah tauhid.

Telah dimaklumi bahwa dasar syariat Islam adalah Al quran dan As sunnah Ash shahihah, pada tulisan ini tidak akan dibahas tentang hujjahnya Al quran dikarenakan sudah tidak diragukan lagi tentang bukti keotentikannya[1], tetapi pembahasan ini akan difokuskan tentang hujjahnya hadits Rasulullah r yang merupakan landasan kedua dalam syariat Islam setelah Al quran.

Kedudukan hadits Rasulullah di dalam Islam

Sesungguhnya agama Islam telah mengangkat kedudukan hadits Rasulullah r pada kedudukan yang tinggi dengan sebab-sebab berikut ini:

  1. Karena hadits adalah salah satu dari dua wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad r, Allah I berfirman:

Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan[2].

Dan firman Allah I:

Dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah)…[3]

Al Imam Asy syafi’i berkata: “Aku telah mendengar perkataan seseorang yang aku ridha dari kalangan ahli ilmu berkata: Al hikmah adalah sunnah Rasulullah”. dan kebanyakan para salaf berpendapat demikian seperti, Al Hasan, Qatadah, dan Yahya ibnu Abi Katsir.[4]

Rasulullah r juga bersabda:

Ketahuilah bahwasannya aku diberi Al quran dan yang semisal dengannya (Al Hadits).[5]

  1. Al quran sangat membutuhkan keberadaan Al hadits, maka bisa dikatakan seorang muslim tidak akan mampu mengamalkan perintah Allah taala dengan benar kecuali dengan mengamalkan Al hadits, misalnya rukun Islam yang lima, Al quran memerintahkannya secara mujmal (umum), adapun perinciannya dan tata caranya dijelaskan di dalam Al hadits. Dari sini dapat dikatakan bahwa kelompok yang mengingkari Al hadits mereka memaksakan diri untuk mengamalkan Islam tanpa Al hadits, mereka tidak akan bisa mendirikan shalat dengan benar dan mereka tidak melaksanakan shalat kecuali dua kali  dalam sehari semalam yaitu pada waktu pagi dan sore, karena hanya waktu itulah yang diisyaratkan di dalam Al quran.
  2. Al hadits datang dengan membawa hukum yang baru yang tidak ada di dalam Al quran. Al- Imam Asy syatibi mengatakan: Sesungguhnya dengan istiqra’ (penelitian menyeluruh) menunjukkan banyak sekali hukum yang ada di dalam As sunnah yang tidak datang nash Al- quran atasnya seperti menikahi seorang wanita dan bibinya sekaligus, haramnya keledai jinak, dan haramnya setiap binatang yang bertaring dan berkuku.[6]
  3. Al hadits bersumber dari Rasulullah r  yang Allah I memerintahkan agar umat Islam menaatinya dan mengikutinya. Syekh Al Muallimi berkata[7]: tidak ada perselisihan diantara kaum muslimin bahwasannya hadits Rasulullah r yang shahih dalam perkara Agama Islam ini merupakan wahyu dari Allah I, karena Allah I berfirman:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.[8]

Dalil-dalil tentang hujjahnya Al hadits

  1. Firman Allah I:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.[9]

  1. Firman Allah I:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[10]

Mengembalikan kepada Allah I adalah mengembalikan kepada Al quran, sedangkan mengembalikan kepada Rasul adalah mengembalikan kepada Al hadits setelah wafatnya.[11]

  1. Firman Allah I:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.[12]

  1. Firman Allah I:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.[13]

  1. Sabda Rasulullah r:

لا ألفين أحدكم متكئا على أريكته يأتيه الأمر من أمرى مما أمرت به أو نهيت عنه فيقول لا أدرى ما وجدنا فى كتاب الله اتبعناه

Benar-benar aku akan mendapati salah seorang dari kalian sedang bersandar pada kursinya yang datang kepadanya perkara yang aku perintahkan atau perkara yang aku larang maka dia berkata: aku tidak tahu, kami tidak mendapatinya di dalam kitab Allah sehingga kami mengikutinya!.[14]

  1. Sabda Rasulullah r:

فإنه من يعش منكم بعدى فسيرى اختلافًا كثيرًا فعليكم بسنتى وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Sesungguhnya barang siapa yang masih hidup setelahku maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin, peganglah dia dengan erat dan gigitlah dengan gigi geraham, dan jauhilah perkara yang baru karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bidah dan setiap bidah adalah sesat.[15]

  1. Kesepakatan para ulama atas hujahnya Al hadits menjadi landasan dasar syareat Islam. Syeikh Al albani mengatakan: sesungguhnya kaum muslimin terdahulu seluruhnya sepakat tentang sunnah nabawiyah adalah landasan kedua dan terakhir di dalam syariat Islam di dalam perkara yang ghaib, amalan, politik, pendidikan. tidak boleh menyelisihinya hanya karena mengikuti pendapat, ijtihad seseorang, maupun qiyas, hal ini sebagaimana perkataan Imam Asy syafii di bagian akhir kitab “Ar risalah”: “Tidak halal penggunaan qiyas sedangkan ada hadits tentang permasalahan tersebut”.[16]

Alasan pembahasan

Keprihatinan terhadap sebagian orang yang menisbatkan ke dalam Islam menolak hadits Rasulullah r baik menolak secara keseluruhan maupun sebagiannya, namun bisa dikatakan hakikatnya mereka telah menolak hadits Rasulullah r yang merupakan landasan hukum kedua di dalam Islam. Hal ini dalam rangka untuk amar ma’ruf nahi munkar dan mengembalikan pemahaman yang salah kepada pemahaman yang benar demi tegaknya kejayaan kaum muslimin di dunia dan di akherat, karena kaum muslimin tidak akan jaya kecuali dengan kembali kepada ajaran yang benar dan murni.

Di antara bentuk-bentuk penolakan hadits adalah:

  1. Pengingkaran terhadap hadits secara keseluruhan.
  2. Pengingkaran terhadap hadits ahad.
  3. Mengkritik keabsahan hadits-hadits shahih yang membahas tentang tema tertentu, seperti: hadist melihat Allah I di akherat, turunnya nabi ‘Isa ibnu Maryam ke dunia di akhir jaman, hadits lalat, hadits sihir terhadap Nabi r, hadits nabi Musa memukul malaikat maut sampai keluar matanya, hadits syafaat, fitnah kubur, dll.
  4. Mengkritik keabsahan kitab-kitab induk hadits, misal: shahih Al bukhari.
  5. Mengkritik kredibilitas para periwayat hadits, terlebih lagi terhadap sahabat.
  6. Memalsukan hadits Nabi r [17]

Berikut ini akan dijelaskan sebagian dari bentuk-bentuk penolakan hadits secara rinci:

Pengingkaran terhadap hadits keseluruhan

Aqidah pengingkar hadits atau Quraniyun adalah mereka merasa cukup dengan Al quran saja, dan agama Islam menurut mereka hanya berlandaskan Al quran saja tidak membutuhkan hadits Rasulullah r, namun kenyataannya mereka tidak boleh tidak harus memakai hadits di dalam beberapa masalah, seperti: tata cara shalat, zakat, dll.

Ajakan untuk mencampakkan Sunnah, bukanlah produk masa kini. Akan tetapi, telah ditukangi pertama kali oleh kaum musyrikin Quraisy. Mereka menyalakan api fitnah ini. Menyulut keragu-raguan tentang kesucian Sunnah.

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam Musnad-nya, dan Abu Dawud dalam Sunan-nya dengan isnad shahîh dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata :

“Sebelumnya, aku menulis setiap sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah r. Aku ingin menghafalnya. Kemudian kaum Quraisy melarangku. Mereka berkata (dengan nada pengingkaran, Pen.): “Apakah engkau menulis semua yang engkau dengar darinya, padahal Rasulullah adalah manusia biasa, berbicara dalam keadaan marah dan senang?” . Aku mengekang diri dan kemudian, aku ceritakan hal ini kepada Rasulullah r. Dengan jari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke mulut seraya bersabda : “Tulis saja. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari diriku kecuali kebenaran”.

Adapun penolakan Al hadits setelah tersebarnya Islam terjadi pada masa akhir generasi sahabat. Diriwayatkan dari Al hasan Al bashri, sesungguhnya ‘Imran bin husain suatu ketika duduk-duduk bersama sahabat-sahabatnya, lalu berkatalah seorang laki-laki: “Janganlah kalian berbicara melainkan Al quran saja!” Imran berkata: “Mendekatlah!” Laki-laki itu mendekatinya, ‘Imran berkata,” Apakah kamu tahu kalau seandainya kamu dan teman-temanmu hanya diberi Al-quran apakah kamu mendapati didalamnya shalat Dhuhur empat rekaat, shalat ‘Ashr empat rekaat, dan shalat Maghrib tiga rekaat? bacalah dua kali! apakah kamu tahu kalau seandainya kamu dan teman-temanmu hanya diberi Al quran apakah kamu mendapati didalamnya thowaf tujuh kali, dan sai antara shoffa dan marwa?!” Kemudian dia berkata:” Wahai kaum, ambilah dari kami! Demi Allah jika kalian tidak melakukannya kalian pasti akan sesat!”[18]. Dan munculnya penolakan hadits pada masa itu masih bersifat individual belum berkumpul di dalam jamaah yang terorganisir.

Syiah rafidhah dipandang kelompok yang menolak hadits setelah itu, karena memang akidah mereka adalah mengkafirkan sahabat kecuali segelintir orang saja, maka seluruh hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang mereka kafirkan akan ditolak mentah-mentah, apalagi menurut mereka para sahabat telah berdusta dan berkhianat di dalam penyampaian risalah sehingga menyembunyikan bagian ayat-ayat Al quran. Tidak mengherankan terhadap akidah mereka karena mereka hakekatnya bukanlah orang Islam, karena tidak akan ada di hati seorang muslim keyakinan rusak seperti itu, apalagi diketahui bahwa pencetus agama Syiah adalah Abdullah bin Saba’ seorang yahudi yang memang dia pura-pura masuk Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam, wallahu al musta’an.

Adapun pada masa sekarang bermunculan orang-orang yang menolak hadits shahih dengan dasar akal mereka yang dangkal dan dengan dalih “kebebasan berfikir”, “apresiasi” “penghilangan kejumudan akal”. Namun kalau dicermati pemikiran penolakan hadits itu diantaranya efek dari penjajahan orang-orang barat pada negeri kaum muslimin, karena disamping mereka menjajah dan mengeksploitasi hasil alam mereka juga mempunyai misi untuk menjauhkan Islam dari para pemeluknya yaitu dengan menyebarkan paham-paham sesat ditubuh kaum muslimin lewat para misionaris dan orentalisnya, seperti dengan membuka pendidikan ke negeri mereka bagi kaum muslimin dengan tujuan untuk mencuci otak-otak mereka sehingga setelah kepulangan mereka dari belajar mereka akan menjadi pion-pion utama untuk merealisasi tujuan jahat mereka yaitu penghancuran Islam. Disamping tujuan mereka untuk menghancurkan Islam mereka juga memiliki tujuan lain yaitu pengokohan eksistensi mereka dalam penjajahan terhadap negeri-negeri kaum muslimin, seperti penghapusan jihad yang diserukan oleh: Mirza Ghulam Ahmad Al qadiyani[19] dan Jara’ Ali. Kemudian berkembang setelah itu kelompok pengingkaran hadist keseluruhan, seperti: Sayyid Ahmad Khan, Abdullah Jakar alwi, dan Ahmadudin Al Amartasari, kemuidan setelah itu datang Gulam Ahmad Barwes yang mendirikan “Yayasan Ahlul quran”. Disamping itu diterbitkan juga sebuah buku yang berjudul “ Adwau ‘ala as Sunnati al Muhammadiyah” oleh Mahmud Abu Royah, ini adalah kitab yang paling buruk yang ditulis untuk mengingkari Al hadist, dan alhamdulillah kitab ini telah dibantah oleh para ulama diantaranya adalah: DR. Musthafa As siba’i, Syekh Abdurrahman Al Muallimi, Syekh Muhammad Abdurrazzak hamzah, dll,

Pengingkaran terhadap hadits ahad

Kaum salaf masa abad yang utama (tiga generasi awal Islam) sepakat akan wajibnya mengamalkan sunnah atau hadits, mereka tidak membedakan antara hadits ahad[20] dengan hadits mutawatir[21], bahkan mereka tidak mengenal furu dan ushul addin, yang penting jika datang kepada mereka syariat Islam mereka segera tunduk dan mengamalkannya tanpa mempertanyakan apa atau bagaimana. Kemudian datang abad yang kelima hijriyah muncul perkataan penolakan hadits ahad hal itu terjadi setelah masuknya ilmu kalam kedalam tubuh kaum muslimin.

Dalil-dalih hujjahnya hadits ahad

  1. Allah I berfirman:

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.[22]

Sisi pendalilan: bahwasannya Allah I memerintahkan “thaifah” untuk mencari ilmu agar nantinya bisa didakwahkan kepada kaum muslimin sekembalinya mereka dari jihad, sedangkan yang diserukan tersebut adalah syariat Islam keseluruhan, meliputi: aqidah, ibadah, muammalah, dll. Sedangkan lafadz “thaifah” cocok untuk satu atau dua orang saja (ini masuk khobar ahad), sebagaimana firman Allah I:

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! …[23]

Ayat ini sesuai jika yang berperang adalah dua orang saja. Ini menunjukkan bahwa hadits ahad diterima.

  1. Allah I berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[24]

Di dalam bacaan lain “fatatsabbatu”, tatkala Allah I memerintahkan agar tatsabbut (meneliti) berita dari orang fasik maka ini menunjukkan bahwa berita orang yang adil tidak perlu diteliti dan wajib diterima, kalau tidak begitu maka penyebutkan orang fasik dalam ayat ini tidak ada gunanya karena masih diperintahkan untuk meneliti seluruh berita (berita fasik dan adil). Maka di dalam ilmu hadits keadilan perawi hadits merupakan salah satu syarat hadits shahih, maka kalau sudah terpenuhi syarat-syarat tersebut wajib untuk diterima dan diamalkan dengan tanpa membedakan anatara hadits ahad dengan hadits muatawatir.

  1. Rasulullah r bersabda:

إن بلالا يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم

Sesungguhnya bilal menyerukan adzan pada malam hari, makanlah dan minumlah sehingga terdengar adzannya Ibnu Umi Maktum. [25]

Sisi pendalilan: di dalam hadits di atas menunjukkan perintah Nabi r untuk membenarkan seruan muadzin padahal dia hanya satu orang, dan mengamalkannya ketika masuk waktu shalat, waktu berbuka puasa dan waktu sahur, ini menunjukkan berita satu orang wajib diterima.

  1. Rasulullah r bersabda:

نضر الله عبدا سمع مقالتى فوعاها ثم بلغها عنى فرب حامل فقه غير فقيه ورب حامل فقه إلى من هو أفقه منه

Allah membaguskan wajah seorang hamba yang telah mendengar perkataanku dan menghafalnya kemudian menyampaikannya, barangkali penghafalnya tidak faqih dan barangkali orang yang menghafalnya menyampaikannya kepada orang yang lebih faqih (faham) darinya.[26]

Di dalam hadits ini Rasulullah r memerintahkan setiap hamba Allah I yang mendengar hadits dari beliau untuk menyampaikan kepada yang lain, sedangkan hamba itu hakikatnya adalah satu orang, dan tidaklah Rasulullah r memerintahkan hamba tersebut untuk menyampaikan hadits, melainkan hal itu menunjukkan bahwa hadits ahad wajib diterima.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hadits ahad yang shohih haruslah diyakini dan diamalkan, baik dalam masalah hukum atau aqidah. Jika terdapat suatu hadits ahad yang shohih berdasarkan penelitian para ulama’ hadits, maka harus kita jadikan sebagai hujjah. Kepada saudaraku kaum muslimin yang sebelumnya telah terpengaruh dengan propaganda yang menyatakan bahwa hadits ahad tidak bisa digunakan sebagai hujjah dalam aqidah maka hendaknya bertaubat kepada Allah I dan mengikuti jejak generasi Salafus Shalih[27]. Saya katakan sebagai ‘propaganda’ karena – seperti yang dikatakan Ibnul Qoyyim al- Jauziyyah – kaidah semacam itu adalah berasal dari ahli filsafat yang pemikirannya masuk ke dalam Islam.[28]

Sebab-sebab munculnya keyakinan penolakan hadits ahad:

  1. Menyebarnya kebid’ahan
  2. Mendewakan akal dan menomorduakan nash
  3. Masuknya ilmu kalam, ilmu mantiq, dan filsafat
  4. Kurangnya pemahaman terhadap syariat agama Islam dengan benar
  5. Jauhnya kaum muslimin dari aqidah salaf

Demikianlah yang dapat dipaparkan pada tulisan ini, adapun untuk pembahasan yang masih ada kaitannya namun belum dibahas, seperti: munculnya kelompok yang mengingkari siksa kubur, turunnya Nabi ‘Isa Ibnu Maryam pada akhir jaman, hadits lalat, dll, syubhat-syubhat mereka dan bantahannya tempatnya bukan disini akan tetapi perlu pembahasan yang khusus dan tersendiri.

Akhir kata, kami menyadari tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik, saran, dan masukan yang membangun demi peningkatan kualitas tulisan ini.

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad r beserta keluarga dan para sahabatnya dan kepada orang-orang yang mengikuti mereka sampai akhir jaman. Alhamdulillahi Rabbil alamin. wallahu a’lam bish shawab

Daftar pustaka

  1. Al quran Al Karim
  2. Ahbaru Al ahad fil hadits, oleh Imam An nawawi
  3. Al Muwafaqat, oleh Asy Syatibi
  4. Hadits hujjah binafsihi, oleh Al Albani
  5. http://albashirah.wordpress.com/2008/04/08/hadits-ahad-hujjah-dalam-aqidah-dan-hukum-4-habis/
  6. Jami’ Al hadits, As Suyuti
  7. Mushthalah hadits 1, Al Madinah International University
  8. Tadwin As sunnah, Al Madinah International University

[1]Tidak ada yang meragukan Al quran kecuali orang-orang yang jelas-jelas menyimpang (sesat-red) seperti para pengusung tafsir Hermeneutika

[2] An nahl: 44

[3] Al jumuah: 2

[4] Tadwin As sunnah: 19

[5] Hadits riwayat Ahmad, 28: 410

[6] Al muwafaqat, 4: 323-3324

[7] Al anwar Al kasyifah: 28

[8] An nisa’: 80

[9] Al hasyr: 7

[10] An nisa: 59

[11] Al muwafaqat, 4: 321

[12] An nisa: 65

[13] Al ahzab: 36

[14] Hadits riwayat Asy Syafii, 1:151, Ahmad,6/8: 23912, Abu Dawud, 4: 200, At tirmidzi, 5: 37,2663, Ibnu Majah, 1: 6, Ibnu Hibban, 1: 190, Ath thobrani, 1: 316, Al Hakim, 1: 190, Al baihaqi, 7: 76.

[15] Hadist riwayat Ahmad, 4: 126, Abu Dawud, 4: 200, At Tirmizi, 5:44, Ibnu Majah, 1: 15, Al Hakim, 1: 174, Al Baihaqi, 10:114, Ibnu Hibban, 1:178, Addarimi, 1:57.

[16] Al Albani: 5.

[17] Tadwin assunnah : 75

[18] Tadwin assunnah : 76

[19] Pendiri agama Ahmadiyah di India

[20] Hadits ahad adalah hadits yang tidak memiliki sifat mutawatir (Mushthalah hadits: 110)

[21] Hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang yang dari banyak orang juga yang mustahil secara kebiasaan terjadi kedustaan di dalamnya dan riwayat ini disandarkan kepada sesuatu yang diindera dan dhoruri ( an Nawawi, 1: 22)

[22] At taubah: 122

[23] Al hujurat: 9

[24] Al hujurat: 6

[25] Hadits riwayat Al bukhari, 2: 940, Muslim, 2: 768, dll

[26] Hadits riwayat Ahmad, 3: 225, Ibnu Majah, 1:86, Ath thabrani, 7:116.

[27] Nabi dan para Sahabatnya, tabi’in, dan atbaaut taabi’in, serta para Ulama’ ahlul hadits yang mengikuti mereka dengan baik.

[28] Kharisman Kholid

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: