Berbakti Kepada Orang Tua

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Segala puji hanya milik AllahTa’ala, yang telah memerintahkan kita untuk berbakti, dan mencegah kita berbuat durhaka. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammadr, Kemudian keluarga dan para shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari qiyamat.

Dewasa ini banyak terjadi perbutan durhaka kepada kedua orang tua, muncul sekarang ini orang-orang yang meninggikan suaranya dihadapan kedua orangtua, orang-orang yang memandang kedua orang tua sebagai musuh. Terkadang mereka menghina kedua orang tuanya, atau bahkan menganggap kedua orang tuanya sebagai sesuatu yang tidak berarti. Bahkan ada yang sampai berani memukul orang tuanya dan mengeluarkan mereka dari rumah.

Sungguh mereka telah menyelisihi apa yang telah Allah Ta’ala perintahkan. Dimana Allah Ta’ala memerintahkan hambanya untuk berbakti kepada kedua orang tua, memuliakan keduanya, senantiasa bersukur dan berbuat baik kepada mereka. Bahkan Allah Ta’ala menyandingkan perintah berbakti kepada kedua orang tua dengan perintah terbesar kepada hambanya yakni perintah untuk bertauhid dan  tidak berbuat Syirik kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al Israa’:23-24).

Ali bin Abi Tholib berkata tentang ayat iani: “seandainya ada dalam perbuatan durhaka sesuatu yang lebih ringan dari perkataan ah, niscaya Allah Ta’ala akan mengharamkannya.”

Banyak ayat Al Qur’an yang menyebutkan perintah bertauhid kepada Allah Ta’ala kemudian diiringi dengan perintah berbakti kepada kedua orang tua. Para ulama’ telah menjelaskan hikmah dalam permasalahan ini. Diantaranya:

ü  Allah Ta’ala yang menciptakan dan memberi rizki, maka hanya Allah yang berhak untuk diibadahi. Sedangkan kedua orang tua adalah sebab adanya anak. Maka wajib bagi kita untuk berbuat baik kepada keduanya.

ü  Allah Ta’ala adalah Rabb manusia yang mendidik dan membina manusia diatas manhaj-Nya, maka Dialah yang pantas untuk digungkan dan dicintai. Demikian pula kedua orang tua kita yang telah mendidik kita semenjak kecil dengan susah payah, maka selayaknya bagi kita untuk besikap tawadlu’, menghormati dan memuliakan mereka.

ü  Allah Ta’ala sajalah yang telah memberikan semua nikmat yang diperoleh hamba-hambanya, maka Dialah yang pantas kita syukuri. Sedangkan kedua orang tua kita telah memberikan semua yang kita butuhkan semenjak kita kecil, maka kita diwajibkan untuk berterima kasih kepada keduanya. Sebagai mana firman Allah Ta’ala:

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman:14)”.

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapak-nya.” (QS. Al Ankabut:8)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan durhaka kepada kedua orang tua sebagai salah satu dosa yang paling besar dan mensejajarkannya dengan syirik. Dimana beliau bersabda: “ maukah kalian aku khabarkan tentang dosa yang paling besar?” beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. “berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua,” ketika itu beliau bersandar, kemudian duduk dan berkata: “ hati-hati dengan perkataan dusta!, hati-hati dengan sumpah palsu!” (muttafaq ‘alaih)

Seseorang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata: “wahai Rasulullah! Siapakah yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?”  beliau menjawab: “ibumu”, kemudian orang itu berkata: “kemudian siapa?” beliau menjawab: “ibumu” orang itu brkata lagi: “kemudian siapa?” rasulullah menjawab: “ibunu” kemudian dia berkata,: “kemudian siapa?”  rasulullah menjawab: “bapakmu.” (muttafaq ‘alaih).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ celakalah dia, celakalah dia, celakalah dia.”  Seseorang berkata: “siapa yang celaka wahai rasulullah?” beliau berkata: “orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah seorang darinya lanjut usia, tetapi tidak memasukkannya kedalam surga.” (Muslim).

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjadikan berbakti kepada kedua orang tua sebagai salah satu sebab diampuninya dosa. Dari Ibnu Umar berkata: “NabiShallallahu ‘alaihi wa sallamdidatangi seseorang yang berkata: “saya telah melakukan dosa besar, apakah ada taubat untukku?”  kemudian beliauShallallahu ‘alaihi wa sallambertanya: “apakah engkau masih mempunyai ibu?” diapun menjawab: “tidak.”  BeliauShallallahu ‘alaihi wa sallambertanya lagi: “maka apakah engkau memiliki bibi? (dari fihak ibu)” dia menjawab: “betul”  maka Rasulullah menjawab: “berbaktilah kepadanya.” (diriwayatkan Imam tirmidzi dan dishahihkan oleh al Albani) dalam riwayat ibnu hibban dan alhakim dengan lafadz : “apakah engkau masih memiliki kedua orang tua?”

Para ulama’ juga telah bersepakat tentang wajibnya berbakti kepada kedua orang tua. Mereka telah membahas masalah ini dalam kitab-kitab mereka, seperti Shohihul Bukhori, Shohih Muslim dan kitab-kitab induk yang lainnya

ADAB-ADAB ISLAM TERHADAP ORANG TUA.

Banyak ayat dan hadist yang memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Dan memperingatkan kita dari berbuat durhaka kepada mereka. Akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui bagaimana adab terhadap kedua orang tuanya. Maka akan kita dapati mereka terjatuh dalam perbuatan durhaka tanpa mereka sadari. Selayaknya bagi kita untuk mempelajari adab kepada kedua orang tua yang diajarkan oleh Islam. Diantara adab tersebut adalah:

1.           Mengetahui besarnya hak keduanya, keberadaan mereka yang sangat mulia, dan tingginya kedudukan mereka dalam pandangan Islam.

2.           Beradab dan sopan ketika berbicara dengan keduanya, dengan memilih perkataaan atau ungkapan yang sesuai dengan meraka ketika berbicara.

3.           Menaati setiap perintah keduanya, selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Apabila memang tidak bisa memenuhi permintaan keduanya maka hendaknya berusaha untuk tidak menjadikan keduanya murka.

4.           Selalu berusaha membahagiakan mereka. Baik dengan memberi hadiah, mengunjungi mereka, memberi khabar yang menyenagkan, atau yang semisalnya.

5.           Mengucapkan salam ketika memasuki atau keluar dari rumah mereka. Disunnahkan mencium tangan dan kening mereka.

6.           Menjaga adab ketika berbicara dengan keduanya. Jangan sampai merendahkan atau menghinakan mereka.

7.           Menjaga hak-hak mereka, dan harta mereka. Dan tidak mengambil apapun tanpa idzin dari mereka.

8.           Selalu meminta petunjuk dan bimbingan mereka dalam perkara yang penting. Dan melaksanakan apa yang dinasehatkan oleh keduanya.

9.           Banyak mendoakan dan memohon ampun untuk keduanya.

10.       Tidak mengganggu keduanya ketika mereka tidur. Dan bila terpaksa membangunkan mereka hendaklah dengan cara yang selembut mungkin.

11.       Tidak mendahului mereka ketika berjalan, atau ketika masuk atau keluar suatu tempat, atau duduk sebelum mereka duduk.

12.       Melunasi hutang keduanya, berhaji, berumroh dan bersedekah untuk   keduanya jika mampu.

13.       Mendahulukan dan memilihkan untuk mereka  makanan dan minuman yan terbaik.

14.       Memuliakan karib mereka baik ketika keduanya masih hidup atau setelah meninggal dunia.

15.       Memperhatikan ketika mereka berbicara dan tidak memotong pembicaraan.

16.       Menampakkan rasa bangga dan menasabkan diri kepada mereka walaupun mereka adalah orang fakir.

17.       Memberikan nafkah kepada mereka ketika mereka sedang membutuhkan.

18.       Tidak mendahulukan isteri baik dihadapan maupun dibelakang mereka.

19.       Melaksanakan wasiat mereka dan menyambuang silturahim.

20.       Menziarahi kuburannya dan memohankan rahmat ketika mereka telah wafat.

BAGAIMANA BILA TERNYATA KEDUA ORANG TUA KITA MASIH KAFIR?

Apabila kita ditakdirkan terlahir dari ibu dan ayah yang kafir kepada Allah Ta’ala, maka kita harus berupaya dan berusaha agar kekafiran itu berubah menjadi keimanan. Kita tetap diwajibkan berbakti kepada keduanya meskipun mereka masih dalam kekafiran selama mereka tidak menentang dan memusuhi islam. Hal tersebut didasarkan kepada surat luqman ayat 14.

“dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”

Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak memerangi Islam dalam firmanya,

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.’ (QS.  Mumtahanah:8)

diriwayatkan dalam Shohihul Bukhori dan Shohih Muslim dari Asma’ binti Abu Bakar ia berkata, “ibuku mendatangiku, sedangkan dia  seorang wanita musyrik dijaman Rasulullah r. Maka aku meminta fatwa kepada RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallamdengan mengatakan, Ibuku mendatangiku dan dia menginginkan aku (untuk berbuat baik kepadanya), apakah aku boleh menyambung (persaudaraan dengan) ibuku.” Beliau bersabda, “ya, sambunglah (persaudaraan dengan) ibumu.”

Ibnu Hajar berkata, “berbakti, menyambung persaudaraan dan berbuat baik itu tidak mesti dengan mencintai dan menyayangi yang hal itu dilarang dalam firman Allah Ta’ala, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”

Namun kalau mereka termasuk kafir harbi maka tidak boleh berbakti dan bersilaturahmi kepada keduanya dengan dasar surat Al Mumtahanah ayat 9.

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Dengan demikian kita tidak boleh berbuat baik kepada orang kafir harbi (meskipun ia adalah orang tua kita) berdasarkan keumuman ayat ini. Bahkan seandainya bertemu di medan perang, harus dilawan. Hal ini sudah pernah terjadi terhadap Abu Ubaidah Ibnul Jarrah dengan ayahnya pada waktu perang badar. Ayahnya ikut di medan pertempuran dan berada difihak kaum musyrikin kemudian Abu Ubaidah melawannnya hingga ayahnya meniggal ditangannya.

Akhirnya semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua kita, dan meneguhkan kesabaran kita dalam bebakti kepada mereka. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kita dan kedua orang tua kita, serta menyayangi keduanya sebagai mana mereka menyayangi kita pada waktu kecil. Wallahu Ta’ala’lam walhamdu lillahi rabbil “alamiin.

(ibnu Ma’sum)

https://abufarhanzaki.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: