Thoharoh

Hukum-Hukum Seputar Thaharah

Muqaddimah

Merenungi agama Islam ini dengan perenungan yang benar, akan membawa kita pada satu kesimpulan inti bahwa ia adalah agama yang indah lagi sempurna. Kesempurnaan yang tidak ada sedikitpun celaan maupun aib di dalamnya. Ia laksana suatu bangunan indah yang tersusun apik tanpa membutuhkan penambahan maupun pengurangan.

Marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing. Agama manakah yang ada di dunia ini yang membahas semua lini kehidupan manusia?.Kepercayaan manakah yang di dalamnya terdapat aturan-aturan super sempurna yang sangat dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, baik yang bersifat vertikal antara makhluk dengan sang Khalik, maupun yang bersifat horizontal sesama mereka?.Tentu tak akan ada jawaban lain yang kita jumpai, melainkan dengan yakin kita katakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang paripurna dan paling indah di jagat raya ini  Sempurna dalam aqidahnya, sempurna dalam ibadah, muamalah maupun akhlaknya.

Allah Taala berfirman  di dalam kitab-Nya yang mulia:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُم نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Artinya:  “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah   Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu”.( Q.S al-Maidah : 3 )

Demikianlah gambaran kesempurnaan Islam yang telah dilegitimasi oleh Dzat yang telah menurunkan dan memilihnya untuk makhluk-Nya sebagai panutan hidup mereka dan Dia  tidak menerima agama selainnya

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:  “ Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Q.S. Ali Imran:85)

Di antara bentuk kesempurnaan Islam adalah masalah thaharah. Masalah ini sangat berkaitan erat dengan ibadah shalat seseorang. Shalat tidak akan sah kecuali bila ia dalam keadaan suci dan ia tidak mampu mensucikan dirinya kecuali ia memiliki perangkat ilmu dalam memahami masalah thaharah. Di sinilah letak urgensi mempelajari hukum-hukum seputar thaharah.

Defenisis Thaharah

Menurut tinjauan etimologi, thaharah merupakan isim mashdar (kata dasar) thahharah-yuthahhiru, tathhiran yang berarti mensucikan.

Adapun menurut terminologi syariat, thaharah bermakna penggunaan air, tanah atau salah satu dari keduanya oleh orang yang bersuci berdasarkan sifat yang disyariatkan dalam menghilangkan najis atau hadas. (Lihat Subulssalam)

Hukum Thaharah

Hukum thaharah adalah wajib berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah . Allah Taala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6)

Rasulullah e bersabda yang artinya: “Kunci shalat adalah bersuci.”. Beliau juga bersabda yang artinya: “Shalat tanpa wudhu tidak diterima.”(HR Muslim)

Pembagian Thaharah

Thaharah terbagi menjadi dua bagian, thaharah yang bersifat lahiriayah dan thaharah yang bersifat bathiniyah.

Thaharah bathiniayah adalah mensucikan jiwa dari pengaruh-pengaruh dosa dan maksiat dengan bertaubat secara benar serta membersihkan hati dari kotoran syirik, ragu-ragu, dengki, iri, sombong, riya’ dan sifat-sifat jelek lainnya dengak keikhlasan, keyakinan, cinta kebaikan, lemah-lembut, tawadhu dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Sedangkan thaharah yang bersifat lahiriyah yaitu menghilangkan najis dan hadats dari, menghilangkan najis dengan air yang suci, dari pakaian orang yang shalat, atau badan atau dari tempat shalat. Menghilangkan hadats dengan berwudhu, mandi dan tayamum.

Alat-alat Yang Digunakan Untuk Berthaharah

A.  Air

1 Hukum Air

Hukum air adalah thahur yaitu suci dan mensucikan.

2 Jenis jenis air

a.air mutlak

Air mutlak adalah air yang tidak tercampuri dengan sesuatupun dari najis.

Di antara jenis air mutlak adalah

  1. Air hujan, embun dan salju. Air ini suci dan mensucikan

sebagaimana yang difirman kan oleh Allah I:

Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan

hujan itu (Al-Anfal: 11)

Allah I juga berfirman:

Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, (QS. Al-Furqan: 48)

Bukti sucinya air ini juga sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah dalam haditsnya: Ya Allah s      ucikannlah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.

2. Air laut

Sucinya air laut ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Khamsah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah e: Wahai Rasulullah sesungguhnya kami menaiki perahu dan kami membawa sedikit air. Bila kami berwudhu dengannya kami akan kehausan. Apakah kami harus berwudhu dengan air laut? Beliau menjawab: Airnya suci  mensucikan dan bangkainya halal.

b. air musta’mal

Air musta’mal adalah air percikan dari orang yang berwudhu atau mandi. Hukum air ini adalah suci mensucikan sebagaimana air mutlak. Hal ini dikarenakan tidak dijumpai satu dalilpun yang mengeluarkannya dari sifat ini.

c. air yang bercampur dengan hal-hal yang suci

Contohnya seperti air yang bercampur dengan sabun, minyak ja’faron, tepung atau hal lain yang pada umumnya akan hilang darinya.

Jenis air ini suci mensucikan selama masih terjaga kemutlakannya. Bila ia telah keluar dari kemutlakannya sebagai air yaitu tidak lagi disebut sebagai air yang mutlak maka ia hanya suci tapi tidak mensucikan.

d. air yang bercampur dengan najis

1. bila najis tersebut merubah rasa, warna atau bau dari air tersebut maka tidak boleh bersuci dengannya.

2. Bila air tersebut tetap di atas kemutlakannya yaitu dengan tidak berubah salah satu dari tiga sifatnya maka hukumnya suci dan mensucikan.

B. Tanah yang suci di atas air, pasir, batu, tanah berair.

Sucinya benda ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah e yang artinya: Bumi dijadikan masjid dan suci bagiku. (HR Bukhari dan Muslim)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: