Mengingkari kemungkaran

AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR

Agama islam merupakan agama yang sangat sempurna, semua permasalahan-permasalahan manusia telah dijelaskan di dalam islam, dari perkara yang terkecil terlebih lagi perkara besar dan perkara yang penting sudah pasti dijelaskan di dalam ajaran islam. Dan termasuk hal-hal yang ada dan telah dijelaskan serta disebutkan tentang tata caranya adalah tentang permasalahan Ingkarul munkar, mengingkari suatu kemungkaran. Maka di dalam mengingkari kemungkaran terdapat beberapa marotib atau tingkatan-tingkatan dalam menyampaikannya, Rasulullah r bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً، فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

“Barangsiapa menyaksikan suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, apabila dia tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu juga maka wajib mengingkari dengan hatinya dan ini merupakan selemah-lemahnya iman (HR. Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah r menjelaskan tentang tiga tingkatan dalam tata cara mengingkari kemungkaran:

Pertama: Rasulullah r menyatakan:

فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ

“Hendaklah ia mengingkari atau merubah dengan tangannya”

Ingkarul munkarبِاْليَدِ– dengan menggunakan tangan, ini bukan dibebankan kepada setiap orang dan hanyalah mengingkari kemungkaran dengan menggunakan tangan ini tadi merupakan taklif atau pembebanan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan atau seorang yang memiliki kekuasaan. Tapi di sini jangan dipahami bahwasannya kita mentakwil dengan kekuasaan, tidak! Tapi gholibnya atau umumnya mengingkari kemungkaran dengan tangan yang memiliki kemampuan ini adalah penguasa, katakanlah dia seorang Presiden atau Gubernur, Bupati atau semisalnya, maka dengan kekuasaannya itu dia mampu mengingkari kemungkaran dengan tangannya, dan itupun kembali kepada kaidah ‘kalau hal itu membawa mashlahat’. Dan pada umumnya kalau penguasa mengingkari kemungkaran dengan tangannya akan membawa maslahat kebaikan karena memang kekuasaan ada pada dirinya.

Ini yang pertama, kemudian yang Kedua: Nabi r menyatakan:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ

Jikalau dia tidak mampu maka hendaklah ia merubah dengan lisannya”

Dijelaskan juga: Adapun mengingkari kemungkaran dengan lisan, inipun tidak tidak setiap orang mampu melaksanakannya. Jadi dengan syarat, harus mengetahui betul bahwa kemungkaran itu benar-benar telah terjadi dan dia mengetahui bahwa perkara tersebut benar-benar perkara yang mungkar, baru kemudian dia ingkari dengan lisannya kalau dia tidak mampu mengubah kemungkaran itu tadi dengan tangannya.

Allah I membebankan ingkarul mungkar dengan menggunakan lisan ini adalah untuk orang-orang yang diberi ilmu dan hikmah oleh Allah I, bukan untuk semua orang. Kenapa? Karena seorang yang melakukan ingkarul munkar atau izalatul mungkar dengan menggunakan lisan tapi dia tidak memiliki ilmu terhadap hal-hal yang hendak ia ingkari, biasanya kerusakannya akan lebih besar daripada maslahatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, seorang pejuang islam yang telah menggunakan lisannya untuk berdakwah dan telah mengerahkan tenaga dan tangannya untuk berjihad terlebih lagi dengan hatinya dalam kisahnya yang masyhur dengan tentara Tartar, tentara kafir. Diceritakan pada suatu hari beliau bersama murid-muridnya berjalan lalu menjumpai tentara Tartar sedang mabuk-mabukan. Maka beliaupun berjalan begitu saja. Maka ada salah seorang muridnya bertanya: Ya, Syaikh! Kenapa engkau tidak mengingkari mereka, padahal jelas-jelas mereka melakukan kemungkaran di hadapan kita? Apa jawab Syaikh? Beliau mengatakan: “Kalau mereka mabuk-mabukan seperti itu kemungkaran hanya terbatas pada diri mereka saja dan mereka sajalah yang mabuk, tapi kalau kita ingkari kemungkarannya, mereka akan meningkatkan kemungkaran mereka tersebut, mereka akan marah, lalu memerangi kaum muslimin karena memang pada waktu itu sedang terjadi peperangan dengan kaum muslimin.

Ini merupakan sikap hikmah, ketika Syaikhul Islam meninggalkan ingkarul mungkar karena menurut pertimbangannya kalau diingkari justru akan terjadi madharat yang lebih besar, yaitu apa? Tertumpahkannya darah kaum muslimin.

Dalam kesempatan lain Syaikhul Islam juga pernah berkata: “Hendaklah ingkarmu terhadap kemungkaran bukan dengan cara yang mungkar. Jadi, hendaklah engkau memerintahkan yang makruf dengan cara yang makruf dan engkau mengingkari kemungkaran bukan dengan cara yang mungkar”.

Kemudian yang Ketiga: Rasulullah menyatakan:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ

“Dan jika tidak mampu juga maka wajib mengingkari dengan hatinya”

Adapun mengingkari kemungkaran atau kebid’ahan dengan hati, dijelaskan bahwa itu mampu dilakukan setiap muslim, nggak boleh berudzur setiap muslim darinya. Kenapa? Karena masing-masing manusia telah Allah bekali dengan hati dan hati itu tempatnya di dalam tak ada seorangpun yang tahu.

Pengingkaran ini tadi yaitu dilakukan dengan baro’ah (berlepas diri), tidak bersekutu, tidak berkumpul dengan pelakunya yaitu pelaku kemungkaran.

Kemudian Rasulullah r melanjutkan sabdanya di atas:

وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

“Ini merupakan selemah-lemahnya iman”

Dikatakan oleh Imam An Nawawiy: “Selemah-lemah iman di sini maksudnya adalah sedikit sekali nampak buahnya. Dan pengingkaran dengan hati bukan berarti itu adalah keimanan yang paling lemah, tidak! Karena kadang-kadang memang kita tidak mampu mengingkari dengan tangan, tidak mampu mengingkari dengan lisan tapi wajib kita mengingkari dengan hati.

وَ صَلىَّ اللهُ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ أَهْلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْن

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: