Hukum Hormat Bendera

Hukum Hormat Bendera
BismillahirRahmanirRahim, Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
Hormat bendera merupakan rutinitas di setiap negara, karena hal itu dipandang sebagai pengakuan eksistensi negara itu sendiri, biasannya rutinitas ini dijalankan di instansi-instansi pemerintah dan sekolahan-sekolahan. Menurut sebagian orang bahwa orang yang tidak mau hormat bendera berarti orang tersebut membangkang atau tidak taat dengan pemerintah serta menggugat kesatuan dan eksistensi negara.
Namun, kenyataannya tidak demikian, karena tidak semua orang yang tidak mau hormat bendera berarti membangkang terhadap pemerintah, seharusnya kita mensikapi mereka dengan kepala dingin, apalagi belum terbukti sekolah yang bersangkutan mengajarkan kepada murid-muridnya agar membangkang kepada pemerintah.
Maka tidak boleh gegabah di dalam menghukumi sesuatu sebelum tabayyun dan tatsabbut dan mendapatkan bukti yang otentik.
Karena barangkali orang-orang atau sekolah-sekolah yang tidak mau hormat bendera memahami sisi lain (aqidah) dari hormat bendera, apalagi telah terbit fatwa kibar ulama saudi tentang larangan itu, lihat fatwanya di sini http://www.islamqa.com/ar/ref/130805
Kalau mau jujur, Justru yang harusnya dipersoalkan dari penyimpangan sekolah adalah kurikulum atau proses belajar dan mengajarnya, apakah mengajarkan para muridnya agar memberontak dan membangkang dengan pemerintah atau tidak? Bukan sekedar hormat bendera atau tidaknya?
Maka penulis empati kepada para pengelola madrasah itu, karena mereka pada posisi yang lemah yang tidak boleh tidak harus mengikuti aturan yang ada.
Maka demi kemashlahatan/kebaikan bersama, tidak masalah –insyaallah – para pengelola madrasah menuruti aturan itu, karena sebagaimana di dalam kaidah ushul ” الضرورات تبيح المحظورات” – keadaan yang darurat (terpaksa) membolehkan yang dilarang (haram) – artinya dalam keadaan terpaksa diperbolehkan untuk melakukan yang dilarang. Wallahu Ta’ala a’lam.
Sebagai penyejuk hati penulis menemukan fatwa ulama Kerajaan Saudi Arabia yaitu Asy Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir Alu Ubaikan – Hafidhahullah – tentang bolehnya hormat bendera dalam rangka menghormati simbol negara:
“Alhamdulillahi wahdah wash shalatu wassalamu ‘ala man la nabiyya ba’dah, amma ba’du:
Di antara permasalahan kontemporer yang perlu ditelaah dengan pemahaman yang cermat adalah permasalahan yang muncul di zaman ini terkait dengan penghormatan terhadap negara dan sistemnya serta penghormatan terhadap symbol negara. Itulah permasalahan hormat bendera.
Yang dimaksud dengan hormat bendera di sini adalah berdiri untuk menghormati bendera. Sebagian orang telah berbicara mengenai hukum permasalahan ini tanpa menilainya dengan melihat akar permasalahannya dan analisis fikih yang tepat. Akibatnya mereka mengeluarkan hukum yang tidak sesuai dengan realita di lapangan dan tidak sesuai dengan maksud atau tujuan orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera.
Jika kita melihat, bendera itu pada asalnya adalah benda yang dikerubungi oleh pasukan perang dan peperangan dilakukan di bawah kibarannya. Jadi bendera perang adalah simbol tegaknya kepemimpian seorang panglima perang sehingga jatuhnya bendera perang bermakna kalah perang. Di zaman ini bendera itu menjadi simbol negara yang dikibarkan di berbagai momentum. Dengan menghormati bendera berarti menghormati kepemimpinan pemimpin negara.
Demikian pula, kita perlu menimbang kondisi orang yang memberikan penghormatan kepada bendera. Realitanya mereka tidaklah menghormati jenis kain yang menjadi bahan pembuatan bendera namun mereka menghormati negara yang bendera merupakan simbolnya.
Ulama yang berpendapat bahwa hormat bendera itu bid’ah bermakna bahwa orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera beribadah kepada Allah dengan cara ini yaitu hormat bendera. Inilah makna bid’ah dalam hukum syariat. Namun tidak kami jumpai seorang pun yang bermaksud demikian ketika memberikan penghormatan terhadap bendera.
Andai ada orang yang mengatakan bahwa dalam penghormatan terhadap bendera terdapat pengagungan terhadap bendera itu sendiri sebagaimana pengagungan terhadap sesuatu yang disembah. Tidaklah diragukan bahwa hal tersebut adalah kemusyrikan kepada Allah namun kami tidak mengetahui seorang pun yang melakukannya.
Dengan mengkaji ‘illah atau sebab hukum yang bisa dijadikan sebagai landasan penilaian dalam masalah ini sangatlah jelas bahwa orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera tidaklah bermaksud dengan dengan maksud-maksud di atas. Namun maksud penghormatan bendera adalah penghormatan terhadap negara dan simbol negara.
Terkait dengan bendera Kerajaan Saudi Arabia, bendera tersebut memuat kalimat tauhid (laa ilaha illallah) yang wajib dihormati oleh setiap muslim.
Suatu hal yang sudah kita ketahui bersama, dalam hukum syariat penghormatan terhadap makhluk itu jika tidak semisal dengan penghormatan terhadap Allah hukumnya boleh. Dalilnya saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkirim surat kepada Heraklius dalam suratnya Nabi mengatakan, “Dari Muhammad utusan Allah untuk Heraklius seorang yang dihormati oleh bangsa Romawi”. Ketika Saad bin Muadz datang untuk menjatuhkan hukuman kepada Yahudi Bani Quraizhah Nabi bersabda, “Berdirilah kalian-wahai para anshar-untuk pemimpin kalian”.
Berdiri untuk menghormati orang yang datang adalah penghormatan biasa, bukan penghormatan dengan level penghambaan. Sehingga berdiri tersebut tidaklah sampai level pengagungan sebagaimana pengagungan kepada Allah. Penghormatan semisal ini hukumnya boleh diberikan kepada makhluk sebagaimana dalil-dalil di atas””.
Teks Asli: (lihat di: http://www.al-obeikan.com/)
الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده …… أما بعد :
فإن من النوازل التي تحتاج إلى فقه دقيق هي ما ظهر في هذا الزمن من مسألة تتعلق باحترام الدولة ونظامها وتعظيم رمزها ألا وهي تحية العلم , والمقصود القيام تعظيماً للعلم وقد تكلم البعض في هذه المسألة من غير تأصيل ولا تكييف فقهي فأصدروا أحكاماً لها لا تتوافق مع الواقع المحسوس ولا مع ما يقصده من يأتي بالتحية وإذا نظرنا إلى أن العلم أو اللواء في الأصل هو ما تلتف حوله الجيوش وتخاض تحته الحروب فكان رمزاً للقيادة وبسقوطه تحصل الهزيمة , وفي هذا الزمن أصبح العلم هو شعار الدولة فيرفع في المناسبات ويحصل بتعظيمه تعظيم القيادة , وإذا نظرنا إلى حال الذين يقومون بتحية العلم وجدنا أنهم لا يعظمون نوع القماش الذي صنع منه العلم وإنما يعظمون ما هو شعار له, فمن قال من العلماء إن تحية العلم بدعة فإنه يلزم من حكمه أن يكون المحيي للعلم متعبداً لله عز وجل بهذه الوسيلة التي هي تحية العلم وهذا معنى البدعة في الشريعة ولا نجد أحداً يقصد بالتحية هذا المعنى , ولو قال قائل إنه بهذه التحية يعظم نفس العلم تعظيم عبادة فهذا ولا شك شرك بالله عز وجل لا نعلم أحداً فعله, وبتحقيق المناط يتضح جلياً أن الذي يحيي العلم لا يقصد ما تقدم ذكره وإنما يقصد تعظيم الدولة ورمزها ,وبالنسبة لعلم المملكة العربية السعودية فهو يحوي كلمة التوحيد والتي يجب تعظيمها من كل مسلم , ومن المعلوم شرعاً أن تعظيم المخلوق إذا لم يكن من باب تعظيم الخالق عز وجل فهو جائز كما فعل صلى الله عليه وسلم عندما كتب إلى هرقل فقال( من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم) , وقال عندما أقبل سعد بن معاذ رضي الله عنه ليقضي في بني قريظة (قوموا إلى سيدكم) و(القيام تعظيم للقادم تعظيم عادة لا تعظيم عبادة) فهو لا يرتقي إلى درجة تعظيم الخالق وهذا سائغ في حق المخلوق كما جاءت به الأدلة والله أعلم وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه .
أملاه الفقير إلى ربه المنان
عبدالمحسن بن ناصر آل عبيكان
Demikian, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian, wallahu ta’ala a’lam, wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sallam>
Penulis: Abu Farhan

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: